Wednesday, 13 January 2016

Bulan dengan Sinar Menenangkannya

Liburan semester kali ini menghabiskan waktu 2 minggu. Banyak kegiatan yang telah aku  alami dan membuat pengalamanku bertambah banyak. Mungkin memang pengalaman yang tak terlalu mengasyikkan seperti yang kalian bayangkan layaknya mendaki gunung,berlibur ke pantai atau something lainnya.

Liburan yang menghabiskan waktu 2 minggu ini hanya kuhabiskan dengan melakukan hal-hal yang seperti biasa kulakukan di hari-hari biasaku. Seperti tidur,makan,jalan ke berbagai mall dan lainlain. Namun selama 2 minggu ini waktuku juga habis memikirkan tentang suatu pengalaman.

Pengalaman ini bercerita mengenai perjuanganku tentang cinta. Mungkin memang terkesan alay di mata kalian namun aku tetap ingin menuangkannya dalam tulisan pendek ini. Selama 15 tahun hidup baru kali ini aku mengejar seorang cowok. Mungkin ini akibat menetapkan sesuatu yang tak kufikir akibatnya ke depan. Aku meninggalkannya tepat 9 bulan aku mengenalnya. Aku mengusirnya dari hidupku.

Bukannya aku tak menyanyanginya lagi namun ini karena sesuatu hal yang memaksaku untuk meninggalkannya. Kalian pasti pernah berada di suatu keadaan yang seperti terlalu sulit untuk bertahan namun tak sanggup untuk mempertahankan. Mungkin memang kata-kata ini sudah tak asing di telinga kalian. Dan kalimat yang kuanggap enteng itu akhirnya terkena padaku.

Aku meninggalkannya dan menyesali itu. Ini lah makna dari jangan pergi hanya untuk dicari. Sekarang kalimat itu selalu menari-nari di pemikiranku. Sekali lagi aku meninggalkannya. Hanya karena aku ingin tau berapa besar rasa sayangnya kepadaku. Aku hanya ingin dikejar sesekali. Namun dugaanku salah. Aku pikir waktu 9 bulan yang mungkin terkesan singkat di matanya dapat menumbuhkan rasa sayangnya padaku. Dugaanku ternyata hanya khayalan belaka.

Hal seperti ini mungkin sudah sering terjadi di kalangan anak muda. Namun untuk aku yang baru berbaur dengan percintaan mau tak mau hanya bisa menganggukkan kepala. Bagaimana bisa orang yang kutemani menhabiskan tiga perempat hidupku nyatanya telah melupakanku. Telah menghapus semua tentangku. Ini konyol sangat konyol menurutku. Aku berjuang untuk orang yang mungkin menengokkan kepala saja tak mau lagi. Aku mencintainya dengan tarian khayalan di otakku. Aku melihatnya dengan mimpi-mimpi manis di akhir malamku. dan aku merindukannya dengan pelukan hangat sang kapuk saat matahari masih malu memunculkan nampaknya.

No comments:

Post a Comment